Tren Kencan Buta Terkurasi Mulai Diminati, Solusi Cari Pasangan Aman dan Setara di Tengah Kejenuhan Dating App

Tren pencarian jodoh bergeser dari aplikasi kencan ke jasa kencan buta offline terkurasi. Metode ini dinilai memberikan ruang aman dan kesetaraan bagi perempuan.

BAMSOETNEWS.COM, YOGYAKARTA — Di tengah kejenuhan masyarakat terhadap aplikasi kencan digital (dating app), fenomena kencan buta (blind date) terkurasi dan jasa mak comblang offline kini kian diminati oleh pencari pasangan, khususnya kalangan pekerja muda dan profesional. Maraknya risiko penipuan, praktik love bombing, hingga ketimpangan ekspektasi dalam aplikasi kencan menjadi pemicu utama masyarakat beralih ke metode tatap muka yang lebih aman dan terstruktur.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya tren penurunan angka pernikahan secara nasional dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi sekitar 1,48 juta pada 2025. Pergeseran statistik ini sejalan dengan meningkatnya “masa tunggu menikah” di kalangan generasi muda yang lebih memprioritaskan penyelesaian pendidikan, kemandirian ekonomi, serta kesiapan mental.

Peneliti agama, budaya, dan kesehatan mental Universitas Gadjah Mada (UGM), Ladrina Bagan, mengungkapkan bahwa fenomena penolakan terhadap aplikasi kencan dipicu oleh meningkatnya kesadaran perempuan akan kebutuhan relasi yang setara dan saling menghargai. Perempuan modern tidak lagi terkungkung dalam dogma budaya yang menuntut sikap submisif, melainkan mencari pasangan yang memiliki kepekaan sosial dan pemahaman dasar (decent human being).

Guna menjawab kebutuhan ruang aman tersebut, platform seperti Blinddate Indonesia mengedepankan proses kurasi ketat bagi para pendaftarnya. Pendiri Blinddate Indonesia, Mahathir Al Afgahani Zein, menjelaskan bahwa dari ribuan pendaftar, hanya belasan peserta yang diloloskan setelah melalui proses evaluasi selama dua pekan. Kurasi tersebut mencakup aspek kesetaraan finansial, kestabilan mental, hingga kemiripan visi hidup demi meminimalkan potensi konflik di masa depan.

Sosiolog UGM, Desintha Asriani, menambahkan bahwa pergeseran tren dari online ke offline ini juga menggambarkan perubahan dinamika kelas sosial. Standar pernikahan saat ini menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan era terdahulu, di mana perempuan kini memperhitungkan rasionalitas karier, kesiapan psikologis, serta kebebasan dari beban ganda (double burden) akibat konstruksi patriarki.

Kendati membutuhkan biaya dan proses seleksi, metode kencan terkurasi di ruang publik dinilai memberikan rasa aman serta iklim komunikasi yang lebih otentik bagi generasi muda dalam menjajaki hubungan serius.

Analisis Khas Bamsoetnews.com

Tajuk Analisis: Transisi Demografi dan Kualitas Keluarga: Pentingnya Kesiapan Finansial dan Psikologis Generasi Muda

Dari kacamata pembangunan SDM dan ketahanan keluarga nasional, pergeseran tren pencarian pasangan serta penurunan angka pernikahan nasional merupakan indikator penting dalam dinamika sosial masyarakat urban Indonesia.

Berikut tiga poin analisis utama khas Bamsoetnews.com:

1. Pergeseran Paradigma Pernikahan dan Kualitas SDM

Menurunnya angka pernikahan tidak selalu harus dipandang secara negatif. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya rasionalitas dan literasi masyarakat—khususnya perempuan—terhadap pentingnya kesiapan finansial, mental, dan hukum sebelum membangun rumah tangga. Pernikahan yang didasari oleh kesetaraan dan perencanaan yang matang akan melahirkan unit keluarga yang lebih stabil secara ekonomi dan sosial, sehingga berpotensi menurunkan angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) serta perceraian.

2. Peluang Ekonomi Kreatif Berbasis Jasa Sosial

Lahirnya inisiatif kencan terkurasi seperti Blinddate Indonesia memperlihatkan geliat ekonomi kreatif di sektor jasa sosial. Ketika platform global (dating app) gagal memberikan rasa aman dan privasi data, inovasi lokal berbasis komunitas (community-based services) hadir memberikan solusi dengan mengedepankan keamanan, etika, dan nilai-nilai budaya lokal.

3. Proteksi Negara Terhadap Ekosistem Digital dan Ruang Publik

Pengalaman buruk pengguna dating app terkait penipuan identitas hingga pemalsuan KTP menegaskan perlunya penegakan hukum dan literasi keamanan digital yang lebih kuat. Di sisi lain, penyediaan ruang-ruang publik yang aman, inklusif, dan kondusif bagi interaksi sosial generasi muda perlu terus didorong oleh pemerintah daerah agar dinamika sosial warga dapat tumbuh secara sehat dan produktif. Sumber

 

Hot this week

Bamsoet Dorong Percepatan Reformasi Birokrasi Berbasis Dampak Nyata untuk Dukung Indonesia Emas 2045

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendesak pemerintah pusat...

Harga Emas Melonjak ke USD 4.460 akibat Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak Turun dan Dolar Melemah

Harga emas melonjak 3% mencapai USD 4.460 per ons...

Lee Soo-hyuk Mendadak Mundur dari Drama Netflix ‘Men of the Harem’, Lee Jong-won Dilirik Jadi Pengganti

Aktor Lee Soo-hyuk secara mengejutkan mundur dari proyek drama...

Fraksi Partai Golkar Rotasi Pimpinan AKD dan Komisi DPR RI, Tegaskan Penyegaran Kinerja Parlemen

Fraksi Partai Golkar DPR RI melakukan rotasi pimpinan komisi...

Topics

spot_img

Related Articles

Popular Categories

spot_imgspot_img