Ubah Bahan Baku Jadi Devisa Tinggi, Bamsoet Bidik Cerutu Premium Nusantara Kuasai Pasar Dunia

Ubah Bahan Baku Jadi Devisa Tinggi, Bamsoet Bidik Cerutu Premium Nusantara Kuasai Pasar Dunia

Ketua Dewan Pembina PERIKHSA Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan Indonesia berpeluang besar menguasai pasar cerutu premium global berbekal tembakau Nusantara berkualitas dunia.

Indonesia dinilai memiliki modal yang sangat besar untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam industri cerutu premium di kancah global. Langkah strategis ini diyakini mampu mendongkrak raihan devisa negara sekaligus mengangkat kesejahteraan para petani tembakau di berbagai daerah sentra produksi tanah air.

Gagasan tersebut ditegaskan oleh Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet). Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PERIKHSA Cigar ini menyatakan bahwa kualitas daun tembakau Nusantara sudah diakui oleh dunia internasional, sehingga hilirisasi menjadi produk cerutu premium siap ekspor harus digenjot secara agresif.

“Banyak orang mengenal Indonesia sebagai penghasil tembakau berkualitas, tetapi belum banyak yang menyadari bahwa kita memiliki potensi menjadi salah satu pemain utama industri cerutu premium dunia. Yang perlu dibangun sekarang adalah keberanian memperkuat merek nasional, meningkatkan kualitas secara konsisten, serta mengubah orientasi dari penjual bahan baku menjadi produsen produk premium bernilai tambah tinggi,” ujar Bamsoet saat menghadiri acara PERIKHSA Bamsoet Cigar Gathering yang bekerja sama dengan BIN Cigar Jember di Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026).

Kekuatan Tembakau Nusantara dan Potensi Pasar Global

Sebagai informasi, PERIKHSA merupakan Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Beladiri Indonesia, sementara BIN Cigar yang berdiri sejak 2013 di Jember, Jawa Timur, merupakan salah satu produsen cerutu terbesar dan berpengaruh di Indonesia.

Indonesia sendiri telah memantapkan posisinya di pasar ekspor nonmigas global. Karakteristik geografis tanah air menghasilkan tembakau dengan keunikan tersendiri yang sangat diburu oleh industri internasional.

Sebaran Bahan Baku, Capaian Ekspor, dan Pasar Utama Cerutu Indonesia

Parameter Industri Data Fakta Eksistensi & Geografis Catatan Strategis Komoditas
Daerah Penghasil Tembakau Dunia Jember, Besuki, Deli, Lombok, Temanggung, hingga Vorstenlanden (Yogyakarta & Jawa Tengah). Menghasilkan daun pembungkus (wrapper) asal Besuki yang dikenal tipis, elastis, halus, dan memiliki cita rasa khas.
Negara Tujuan Ekspor Utama Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda. Menembus pasar negara maju dengan standar kurasi dan kualitas produk yang sangat ketat.
Nilai Ekspor Cerutu (2024) Mencapai sekitar USD 62,6 Juta. Menunjukkan tren pertumbuhan solid yang berpotensi terus ditingkatkan.
Total Ekspor Nonmigas RI (2025) Menyentuh angka USD 269,84 Miliar. Skala makro yang menjadi indikator kuatnya performa perdagangan internasional Indonesia.

Konsep Cigar Tourism Sebagai Bagian Ekonomi Kreatif

Mantan Ketua DPR RI ke-20 ini menambahkan bahwa pengembangan rantai pasok industri cerutu akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang luas bagi perekonomian nasional. Selain menyerap tenaga kerja di pabrik pengolahan dan menghidupkan pelaku UMKM kemasan, industri ini juga berpeluang besar melahirkan sektor pariwisata baru berbasis perkebunan.

“Kita harus melihat cerutu sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis pertanian, industri, budaya, dan pariwisata. Banyak negara berhasil mengembangkan cigar tourism yang memadukan kunjungan ke perkebunan, pabrik cerutu, museum, serta pengalaman menikmati produk premium sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Konsep serupa sangat memungkinkan diterapkan di Indonesia,” urai Bamsoet.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Bamsoet mendesak pemerintah agar memperkuat simplifikasi prosedur ekspor, memfasilitasi sertifikasi internasional, melakukan promosi dagang yang agresif, serta mendanai riset varietas tembakau unggul.

Analisis: Mengikis Stigma Negatif Melalui Kacamata Hilirisasi Pertanian

Pernyataan Bamsoet mengenai hilirisasi industri cerutu ini menyuguhkan ruang diskusi menarik bagi masyarakat ekonomi dan industri kreatif di Indonesia:

1. Reorientasi Mindset: Berhenti Mengekspor “Tanah Air” Secara Murah

Bagi pembaca di Indonesia, kasus daun tembakau wrapper Besuki yang dibeli murah oleh pabrikan asing lalu dijual kembali ke Indonesia dalam bentuk cerutu impor bermerek global dengan harga jutaan rupiah adalah ironi klasik. Narasi yang dibangun Bamsoet adalah penghentian ekspor bahan mentah. Dengan memproduksi cerutu premium di dalam negeri melalui perusahaan lokal seperti BIN Cigar Jember, nilai tambah ekonomi (value added) dari keringat petani lokal akan dinikmati sepenuhnya oleh ekosistem domestik, bukan dinikmati oleh korporasi multinasional Eropa.

2. Membuka Peluang Emas Wisata Minat Khusus (Cigar Tourism)

Selama ini, konsep agrowisata di Indonesia mayoritas mentok pada perkebunan teh atau kopi. Padahal, segmen pasar cigar lovers (pencinta cerutu) global dihuni oleh kalangan jetset dengan daya beli yang luar biasa tinggi. Integrasi budaya lokal Jogja-Jawa Tengah atau Jember dengan wisata edukasi pembuatan cerutu buatan tangan (hand-rolled cigars) berpotensi mendatangkan pelancong premium dunia ke Indonesia. Ini adalah peluang bisnis pariwisata minat khusus baru bagi para pelaku usaha tour and travel domestik.

3. Solusi Kesejahteraan Petani di Tengah Isu Regulasi Tembakau

Di dalam negeri, industri tembakau kerap dihadapkan pada tekanan regulasi kesehatan publik dan kenaikan tarif cukai yang menekan industri rokok konvensional. Transformasi menuju cerutu premium menawarkan jalan keluar alternatif. Cerutu bukanlah produk konsumsi massal, melainkan produk gaya hidup niche market (pasar terbatas). Dengan kuantitas daun tembakau yang lebih sedikit namun diproses menjadi produk bernilai tinggi, petani tembakau di Temanggung, Lombok, maupun Deli dapat mempertahankan pendapatan mereka melalui jalur pasokan komoditas premium berorientasi ekspor yang padat karya ini. Pers Rilis

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *