Korban meninggal dunia dalam Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih bertambah menjadi 5 orang. Ini kronologi dan daftarnya.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengumumkan jumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang sedang mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) untuk menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kini bertambah menjadi lima orang. Pengumuman ini disampaikan hingga Sabtu (27/6/2026).
Daftar Korban dan Keterangan Medis
Berikut rincian data peserta yang meninggal dunia beserta keterangan sementara penyebabnya:
| No | Nama Peserta | Lokasi Pendidikan | Dugaan Penyebab Wafat | Catatan Sebelum Mengikuti Latihan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Yonanda Muhammad Taufiq | Tidak disebutkan | Henti jantung | Lolos pemeriksaan kesehatan |
| 2 | Anisa Muyassaroh | Tidak disebutkan | Sengatan panas ekstrem | Lolos pemeriksaan kesehatan |
| 3 | Novia Rahmadhani Sihotang | Tidak disebutkan | Komplikasi penyakit TBC | Lolos pemeriksaan kesehatan |
| 4 | Muhammad Rifki Renaldi G. | Tidak disebutkan | Masih dalam penelusuran medis | Lolos pemeriksaan kesehatan |
| 5 | Nola Dya Sari | Dudik Bela Negara Kalimantan | Henti jantung, diawali sesak napas dan demam | Lolos dengan catatan kelebihan berat badan |
Apa yang Sebenarnya Menjadi Masalah?
1. Tak Sesuai dengan Kondisi Peserta
Kasus ini menambah daftar panjang kegagalan dalam menyesuaikan jenis latihan dengan kemampuan fisik peserta. Menyamakan porsi latihan fisik untuk calon pengelola koperasi—yang sebagian besar berlatar belakang pekerja kantoran atau akademisi—dengan standar latihan prajurit tentara adalah kesalahan besar. Tujuan pelatihan bela negara bagi warga sipil seharusnya lebih menekankan pada penanaman wawasan kebangsaan, semangat persatuan, dan kesiapan mental, bukan pada aktivitas fisik berat yang berisiko membahayakan nyawa.
2. Pemeriksaan Kesehatan Belum Cukup Ketat
Wafatnya Anisa akibat sengatan panas dan kondisi Nola yang memburuk dengan cepat menunjukkan bahwa ada hal yang terlewatkan. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, aktivitas fisik berat di bawah terik matahari butuh pengawasan ekstra. Kondisi berat badan berlebih yang dimiliki Nola pun seharusnya menjadi perhatian khusus, sehingga porsi latihannya disesuaikan, bukan disamaratakan dengan peserta lain. Hal serupa juga terjadi pada Novia yang ternyata memiliki riwayat penyakit TBC, namun tetap dinyatakan lolos seleksi. Ini membuktikan pemeriksaan kesehatan awal belum berjalan secara ketat dan menyeluruh.
3. Perlu Evaluasi Menyeluruh dan Penghentian Sementara
Desakan DPR untuk menghentikan sementara program ini adalah langkah yang tepat. Kemhan perlu segera memperbaiki aturan baku, mulai dari cara menangani kondisi darurat medis di lapangan hingga kecepatan evakuasi ke rumah sakit terdekat. Setiap lokasi latihan juga harus dilengkapi tenaga medis dan peralatan yang memadai. Jika tujuannya adalah mencetak pengelola koperasi yang andal untuk memajukan ekonomi desa, maka proses pelatihannya tidak boleh sampai mengorbankan nyawa manusia hanya demi nama kedisiplinan. Source

