Pesantren Terpadu Darul Fikri menggelar Golden Parenting 2.0 untuk membekali orang tua pola asuh cerdas, berbasis ilmu, cinta, dan keteladanan.
Pembentukan generasi muda yang unggul dan beradab tidak dapat terjadi secara instan, melainkan membutuhkan pola asuh yang berlandaskan ilmu, cinta, serta keteladanan dari orang tua. Hal tersebut ditegaskan oleh Pimpinan Lembaga Pendidikan Darul Fikri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Al Imaroh Cikarang, KH. Dr. Ahmad Husein Dahlan, Lc., MA.
Menurut KH. Ahmad Husein Dahlan, tanggung jawab orang tua tidak sekadar membesarkan anak atau mencukupi kebutuhan material dan menyekolahkan mereka di lembaga pendidikan berbiaya tinggi. Orang tua dituntut untuk mendampingi tumbuh kembang anak serta menanamkan nilai-nilai kebaikan dan adab secara konsisten.
Menjawab tantangan tersebut, Pesantren Terpadu Darul Fikri kembali menghadirkan program Golden Parenting 2.0. Forum edukatif ini dirancang khusus untuk menyelaraskan pola pendidikan di lingkungan pesantren dengan pola pengasuhan di rumah, sehingga proses pembentukan karakter siswa dapat berjalan seiring dan sejalan.
Acara Golden Parenting 2.0 dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 27 September 2026, bertempat di Hotel Holiday Inn Jababeka. Dalam kegiatan ini, KH. Dr. Ahmad Husein Dahlan bertindak sebagai narasumber utama dengan didampingi oleh psikolog serta pakar pengasuhan anak (parenting expert), Intan Erlita, M.Psi., untuk membantu orang tua menguraikan berbagai problematika pembinaan anak di era modern.
Tajuk Analisis: Sinergi Keluarga dan Lembaga Pendidikan, Penguatan Adab, serta Tantangan Pengasuhan di Era Modern
Inisiatif penyelenggaraan Golden Parenting 2.0 oleh Pesantren Terpadu Darul Fikri menandai pentingnya kolaborasi strategis antara institusi pendidikan dan unit keluarga.
Berikut tiga poin analisis utama:
1. Pergeseran Paradigma Pengasuhan: Materialisme vs Pendidikan Karakter
Kecenderungan sebagian orang tua yang mengidentikkan kasih sayang sebatas pemenuhan materi atau fasilitas sekolah mahal merupakan isu krusial. Program edukasi seperti Golden Parenting memberikan koreksi konstruktif bahwa benteng utama pembentukan karakter anak tetap berawal dari perhatian, keteladanan, dan keterlibatan emosional orang tua di rumah.
2. Urgenitas Sinergi Antara Rumah dan Lembaga Pendidikan
Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah atau pesantren kerap mengalami hambatan jika tidak diselaraskan dengan lingkungan keluarga. Integrasi pemahaman antara pengasuh pesantren dan orang tua menjadi kunci utama agar nilai-nilai adab dan kedisiplinan yang diajarkan di sekolah dapat tertanam secara berkelanjutan.
3. Pendekatan Multidisiplin dalam Pengasuhan Anak Modern
Pencegahan dan penanganan masalah tumbuh kembang anak saat ini memerlukan kolaborasi antara pemahaman keagamaan dan ilmu psikologi modern. Penghadiran pakar psikologi bersama pimpinan pesantren menunjukkan pendekatan adaptif yang relevan dalam menjawab tantangan pengasuhan anak di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman. (Rel)



