Analisis dampak serangan rudal di Tel Aviv terhadap ekonomi Indonesia. Waspadai kenaikan harga BBM dan pelemahan Rupiah akibat konflik Timur Tengah.
Oleh: Redaksi Ekonomi Bamsoetnews
JAKARTA, BAMSOETNEWS.COM — Eskalasi serangan rudal Iran ke jantung ekonomi Israel, Tel Aviv, pada Selasa (24/3/2026), bukan sekadar berita perang. Bagi Indonesia, ini adalah alarm keras bagi stabilitas makroekonomi nasional. Berikut adalah tiga dampak utama yang perlu diwaspadai:
1. Lonjakan Harga Minyak Mentah (Brent)
Penutupan Selat Hormuz ditambah serangan langsung ke pusat kota Israel telah memicu kepanikan di bursa komoditas global. Jika ketegangan tidak mereda, harga minyak mentah jenis Brent diprediksi akan menembus ambang psikologis US$120 per barel. Bagi APBN kita, setiap kenaikan harga minyak dunia akan memperlebar subsidi energi yang harus ditanggung negara.
2. Nilai Tukar Rupiah dalam Tekanan
Dalam situasi konflik global, investor cenderung menarik modal dari negara berkembang (emerging markets) dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti Emas dan Dollar AS. Akibatnya, Rupiah berpotensi melemah terhadap USD. Tekanan ini akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi.
3. Gangguan Jalur Logistik Global
Timur Tengah adalah titik pusat navigasi udara dan laut dunia. Serangan rudal di Tel Aviv memaksa maskapai internasional mengubah rute penerbangan, yang berdampak pada kenaikan biaya logistik kargo udara. Ini akan memicu inflasi dari sisi penawaran (supply-side inflation) di pasar domestik Indonesia. ****






















