Iran belum setujui putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat di Pakistan. Teheran tuntut pencabutan blokade pelabuhan dan penghentian tuntutan berlebihan AS.
TEHERAN, BAMSOETNEWS.COM – Harapan akan terciptanya perdamaian permanen di Timur Tengah kembali menemui jalan terjal. Teheran dilaporkan belum menyetujui putaran perundingan berikutnya dengan Washington guna membahas penghentian konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak Februari lalu.
Dikutip dari laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, yang dilansir oleh Anadolu Agency, Sabtu (18/4/2026), otoritas terkait di Iran menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada kesepakatan untuk duduk kembali di meja perundingan.
Penolakan ini dipicu oleh dua faktor krusial: blokade pelabuhan-pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat dan apa yang disebut Teheran sebagai “tuntutan berlebihan” dari pihak Washington dalam proses negosiasi.
Pihak Teheran menegaskan bahwa kelanjutan pembicaraan hanya akan terjadi jika Amerika Serikat mencabut tuntutan-tuntutan yang dianggap melampaui batas. Pesan tegas ini dilaporkan telah disampaikan kepada Washington melalui mediator dari Pakistan.
“Ketiadaan tuntutan berlebihan dari AS adalah syarat utama bagi kelanjutan pembicaraan,” tulis laporan tersebut.
Padahal sebelumnya, sebagaimana dikutip dari laporan CNN, Sabtu (18/4/2026), pejabat Iran dan Amerika Serikat diperkirakan akan tiba di Islamabad, Pakistan, pada hari Minggu besok untuk memulai putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan pada hari Senin.
Konflik terbuka pecah pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke wilayah Iran. Teheran membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel dan negara-negara kawasan yang menampung aset militer AS.
Perang ini sempat terhenti (on hold) sejak 8 April lalu setelah Pakistan berhasil memediasi gencatan senjata selama dua minggu. Namun, dengan berakhirnya masa gencatan senjata tersebut, kebuntuan diplomasi ini meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya kembali pertempuran skala besar.
Analisis BAMSOETNEWS.COM: Diplomasi di Ambang Tanduk
Kebuntuan perundingan antara Iran dan AS ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan. Analisis kami melihat bahwa strategi Iran yang menolak berunding sebelum blokade dicabut adalah upaya untuk meningkatkan daya tawar (bargaining power) di tengah tekanan ekonomi yang kian menghimpit akibat blokade pelabuhan.
Namun, sikap keras ini sangat berisiko. Jika hingga Senin mendatang tidak ada kemajuan di Islamabad, maka jendela gencatan senjata dua minggu yang akan segera berakhir bisa menjadi awal dari eskalasi militer yang jauh lebih destruktif. Kunci perdamaian saat ini bukan lagi sekadar gencatan senjata teknis, melainkan kesediaan Washington untuk melonggarkan tekanan ekonomi dan kesediaan Teheran untuk mengompromikan ambisi regionalnya. Tanpa itu, Timur Tengah akan tetap berada dalam status “siaga satu” yang mengancam stabilitas energi dan keamanan global. *****

























