Jusuf Kalla (JK) jelaskan pemakaian kata syahid dan martir saat ceramah di UGM yang viral. JK tegaskan bicarakan konteks sejarah konflik, bukan dogma agama.

JAKARTA, BAMSOETNEWS.COM – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan penjelasan resmi mengenai penggunaan kata “syahid” dalam ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Maret 2026 lalu. Penjelasan ini menyusul viralnya potongan video ceramah tersebut yang memicu kontroversi di masyarakat.

Dikutip dari laporan Antara News, Sabtu (18/4/2026), Jusuf Kalla menegaskan bahwa penggunaan istilah tersebut merujuk pada konteks sosiologis peristiwa konflik masa lalu di Indonesia, bukan sedang membicarakan dogma agama secara khusus.

“Saya berada di masjid dan jamaah tidak mengerti martir. Jadi, saya katakan, ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya,” ujar JK dalam konferensi pers di Jakarta.

JK menjelaskan bahwa ceramah tersebut sebenarnya bertemakan perdamaian. Ia mencontohkan konflik di Maluku dan Poso untuk menggambarkan betapa kedua belah pihak yang berkonflik kala itu memiliki keyakinan kuat mengenai mati membela agama.

Menurut JK, dalam perspektif Islam konsep tersebut dikenal dengan istilah “syahid”, sementara dalam perspektif Kristen disebut “martir”. Ia menekankan bahwa penyebutan istilah tersebut disesuaikan dengan audiens di masjid.

“Saya ulangi lagi, saya pakai kata syahid, bukan martir karena saya di masjid. Jadi, bukan saya bicara dogma agama, bukan. Saya bicara kejadian pada waktu itu. Kejadian pada waktu itu, semua merasa masuk surga,” tuturnya sembari menunjukkan cuplikan video dokumentasi konflik tersebut.

Ceramah yang disampaikan pada 5 Maret 2026 dalam rangka Ramadhan 1447 Hijriah tersebut menjadi polemik setelah potongan videonya viral pada pertengahan April 2026. Akibatnya, JK dilaporkan oleh DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke Polda Metro Jaya pada 12 April 2026 atas tuduhan terkait pernyataan mati syahid tersebut. Dalam konferensi pers tersebut, JK juga menyampaikan permohonan maaf karena baru sempat memberikan penjelasan mendetail setelah masalah tersebut viral.

Analisis BAMSOETNEWS.COM: Literasi Konteks di Tengah Sensitivitas Digital

Kontroversi yang menjerat Jusuf Kalla ini menunjukkan betapa tingginya kerentanan narasi publik ketika dipindahkan dari ruang tertutup (masjid/ceramah akademis) ke ruang digital yang terbuka. Analisis kami melihat bahwa JK sedang berupaya menggunakan pendekatan komparatif sosiologis untuk menjelaskan psikologi konflik. Namun, penggunaan terminologi teologis yang sensitif seperti “syahid” dan “martir” tanpa penjelasan batas yang ketat di awal, sangat mudah dipolitisasi atau disalahpahami oleh kelompok lintas agama.

Laporan kepolisian oleh GAMKI menandakan bahwa luka kolektif akibat konflik masa lalu (Maluku-Poso) masih menyisakan trauma yang mendalam. Langkah klarifikasi JK ini merupakan upaya “firefighting” untuk meredam eskalasi konflik horizontal. Kedepannya, tokoh publik dituntut memiliki kecakapan komunikasi yang lebih presisi agar pesan perdamaian yang ingin disampaikan tidak justru berubah menjadi pemicu ketegangan baru akibat distorsi informasi di media sosial. ****

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini