Presiden AS Donald Trump klaim Operation Epic Fury berhasil lumpuhkan Iran. Ia puji Indonesia & Turkiye, serta desak pembukaan Selat Hormuz.
FLORIDA, BAMSOETNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait operasi militer AS di Timur Tengah yang dinamakan Operation Epic Fury. Dalam pidatonya di konferensi bisnis Future Investment Initiative di Florida, Jumat (27/3/2026), Trump menyebut bahwa pengaruh Iran sebagai “preman” di kawasan tersebut kini telah berakhir.
Dikutip dari laporan Anadolu Agency, Trump menegaskan bahwa selama 47 tahun Iran dikenal sebagai pengganggu di Timur Tengah, namun kini posisi mereka terjepit. “Mereka bukan lagi preman. Mereka sedang melarikan diri,” ujar Trump di hadapan para investor.
Trump mengeklaim bahwa kampanye militer AS telah melemahkan kemampuan Teheran secara signifikan. Ia bahkan menyebut para pemimpin tertinggi Iran telah tewas atau dalam kondisi kritis, sehingga pihak Teheran kini mulai “memohon” untuk melakukan negosiasi.
Salah satu poin krusial dalam pidatonya adalah desakan agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini terblokade. Saluran air tersebut merupakan jalur vital bagi pasokan minyak global yang terhenti akibat konflik.
Dengan nada berseloroh yang khas, Trump sempat salah ucap—atau sengaja—menyebut jalur tersebut sebagai “Selat Trump” sebelum mengoreksinya kembali menjadi Selat Hormuz. “Kita sedang bernegosiasi sekarang, dan akan sangat bagus jika kita bisa melakukan sesuatu, tapi mereka harus membukanya. Mereka harus membuka Selat Trump—maksud saya Hormuz,” kelakarnya.
Presiden AS ke-47 ini juga meluapkan kekecewaannya terhadap NATO yang memilih untuk tidak terlibat dalam operasi militer di Iran. Trump menyebut keputusan tersebut sebagai “kesalahan besar” dan memperingatkan bahwa ketidakhadiran sekutu Eropa akan memakan biaya besar bagi mereka di masa depan.
Di sisi lain, Trump memberikan apresiasi khusus kepada sejumlah negara yang dianggap mendukung atau kooperatif selama operasi berlangsung. Selain negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, Bahrain, dan Kuwait, Trump secara spesifik memuji Turkiye dan Indonesia.
Ia menyebut Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan sebagai “pemimpin hebat” dan menyatakan bahwa transformasi Timur Tengah menuju masa depan yang lebih cerah sedang terjadi melalui perluasan Abraham Accords.
Analisis Bamsoetnews.com: Diplomasi ‘Pedang dan Penawaran’ Trump
Pernyataan Donald Trump di Florida menunjukkan pola diplomasi yang sangat transaksional dan agresif. Dengan menyebut adanya “3.554 target tersisa” di Iran, Trump sedang melakukan psychological warfare (perang urat saraf) untuk menekan Teheran agar menyerah total dalam negosiasi.
Penyebutan Indonesia dalam daftar negara yang diapresiasi menarik untuk dicermati. Ini mengindikasikan bahwa posisi Indonesia yang tetap mengedepankan stabilitas kawasan dan jalur perdagangan (mengingat ketergantungan Asia pada minyak lewat Hormuz) dibaca oleh Gedung Putih sebagai dukungan terhadap “ketertiban baru” yang sedang dibentuk AS. Namun, bagi Indonesia, tantangannya adalah menjaga keseimbangan agar tidak terseret terlalu dalam ke dalam polarisasi konflik yang bisa berdampak pada sentimen domestik dan stabilitas ekonomi jangka panjang. *****

























