BPS merilis data pariwisata April 2026. Kunjungan wisman tembus 1,25 juta (naik 7,22%), sementara pergerakan turis domestik (wisnus) merosot tajam hingga 24,14%. Simak analisis lengkapnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) resmi merilis data perkembangan pariwisata Indonesia untuk periode April 2026. Hasilnya menunjukkan tren performa yang kontras antara pergerakan wisatawan asing (mancanegara) dan wisatawan domestik (nusantara) pasca-momentum libur hari besar.
Kunjungan Wisman Melonjak, Mayoritas dari Malaysia dan Australia
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada April 2026 mencatatkan performa impresif dengan mencapai 1,25 juta kunjungan. Angka ini mengalami kenaikan tajam sebesar 14,75 persen dibandingkan Maret 2026 (month-to-month) dan tumbuh 7,22 persen dibandingkan bulan yang sama di tahun lalu (year-on-year).
Secara kumulatif (Januari–April 2026), total kunjungan wisman telah menembus 4,68 juta kunjungan, melonjak 8,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Berdasarkan data paspor, arus kunjungan wisman ke tanah air didominasi oleh tiga negara utama:
-
Malaysia: 207,96 ribu kunjungan (16,65 persen)
-
Australia: 157,96 ribu kunjungan (12,65 persen)
-
Tiongkok: 133,99 ribu kunjungan (10,73 persen)
Bandara Ngurah Rai (Bali) dan Soekarno-Hatta (Banten) tetap menjadi pintu masuk udara paling sibuk dengan menyumbang 87,78 persen dari total wisman yang menggunakan jalur udara. Sementara itu, wisman asal Yaman mencatatkan waktu tinggal terlama dengan rata-rata 29,22 malam.
Wisatawan Domestik dan Nasional Alami Koreksi Tajam
Berbanding terbalik dengan wisman, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) justru mengalami kelesuan yang cukup dalam pada April 2026. Jumlah perjalanan wisnus tercatat sebesar 97,55 juta perjalanan, atau anjlok sebesar 22,79 persen dibandingkan Maret 2026, dan merosot 24,14 persen dibandingkan April tahun lalu.
Meskipun demikian, Pulau Jawa tetap menjadi episentrum utama dengan kontribusi sebesar 65,07 persen dari total pergerakan wisnus, di mana Jawa Barat bertindak sebagai provinsi asal sekaligus tujuan tertinggi di Indonesia.
Penurunan serupa juga terjadi pada lini wisatawan nasional (wisnas) yang bepergian ke luar negeri. Pada April 2026, perjalanan wisnas hanya mencapai 643,66 ribu perjalanan, ambles 30,54 persen secara year-on-year. Negara tetangga seperti Malaysia (29,74 persen) dan Singapura (13,32 persen) masih menjadi destinasi favorit warga lokal saat ke luar negeri.
Okupansi Hotel Bintang Tetap Tumbuh
Sisi positif lain terlihat pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang yang berhasil menyentuh 48,83 persen. Angka okupansi ini naik 1,85 persen poin secara tahunan (y-on-y) dan melompat 6,05 persen poin secara bulanan (m-to-m), dengan rata-rata lama menginap tamu berada di angka 1,63 malam.
Analisis Perkembangan Pariwisata untuk Pembaca di Indonesia
Fluktuasi data pada April 2026 ini memberikan gambaran yang jelas mengenai dinamika ekonomi dan psikologis pasar konsumen di Indonesia:
1. Efek Siklus Jenuh “Pasca-Lebaran” (Post-Holiday Syndrome)
Penurunan tajam wisnus (turun 24,14% y-on-y) dan wisnas (turun 30,54% y-on-y) pada bulan April disebabkan oleh pergeseran siklus libur Idul Fitri. Berdasarkan catatan historis BPS, puncak mudik dan libur Lebaran tahun-tahun sebelumnya berada di bulan April, sedangkan untuk tahun-tahun terbaru (seperti terlihat pada tren grafik 2025/2026), Idul Fitri bergeser maju ke bulan Maret. Akibatnya, pada bulan April masyarakat mengalami “fase jenuh” secara finansial maupun waktu libur, sehingga mobilitas wisata domestik dan internasional dari warga lokal menurun drastis.
2. Daya Tarik Indonesia Bagi Pasar Asing Tetap Resilien
Meskipun turis lokal mengerem pengeluaran untuk berwisata, pertumbuhan wisman yang stabil (naik 7,22%) membuktikan bahwa strategi promosi pariwisata Indonesia di regional ASEAN dan Australia berjalan efektif. Bebas visa atau kemudahan akses bagi warga Malaysia dan kedekatan geografis Australia menjadikan kedua negara ini jangkar utama penopang devisa pariwisata saat pasar domestik sedang lesu. Kenaikan drastis turis asal Tiongkok (naik 39,65% dibanding Maret) juga menandakan pulihnya daya beli pelancong dari Asia Timur.
3. Tantangan Bagi Pelaku Usaha Non-Bintang
Data menunjukkan TPK hotel bintang naik (48,83%), namun hotel non-bintang justru turun 0,79 persen poin secara tahunan. Ini mengindikasikan terjadinya pergeseran preferensi konsumen. Wisatawan kelas menengah-atas (terutama wisman) yang cenderung memilih akomodasi bintang tetap aktif membelanjakan uangnya. Sebaliknya, hotel melati atau non-bintang yang sangat bergantung pada pergerakan wisnus (turis domestik) harus terpukul akibat sepinya pergerakan lokal di bulan April. Pelaku usaha akomodasi mikro/menengah di daerah harus mulai memikirkan strategi paket promosi kreatif di luar musim liburan (low-season) agar tidak mengalami defisit okupansi yang ekstrem. Source

