Bamsoet menilai Koperasi Merah Putih harus jadi motor ekonomi lokal melalui merek kolektif guna meningkatkan kontribusi PDB koperasi yang saat ini baru 5%.

JAKARTA, BAMSOETNEWS.COM – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menyoroti potensi besar pembentukan Koperasi Merah Putih sebagai langkah transformasi koperasi desa. Meski memiliki potensi besar, Bamsoet mengingatkan bahwa sektor ini masih dibayangi persoalan klasik, mulai dari kualitas kelembagaan hingga daya saing produk yang lemah.

Dikutip dari Pers Rilis, Kamis (30/4/26), data Kementerian Koperasi tahun 2025 menunjukkan terdapat sekitar 220.000 koperasi di Indonesia. Namun, Bamsoet mencatat tidak semua entitas tersebut aktif berkembang; banyak di antaranya stagnan atau sekadar menyisakan papan nama tanpa aktivitas ekonomi nyata.

“Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kita memiliki jumlah koperasi yang besar, tetapi kualitas dan keberlanjutannya masih lemah. Pembenahan koperasi harus menyentuh model bisnis dan daya saing produk,” ujar Bamsoet saat peluncuran buku “Penguatan Koperasi Merah Putih Melalui Produk Lokal Berbasis Merek Kolektif” karya Dr. Dewi Tenty Septi Artiany di Parle Senayan, Kamis (30/4/26).

Bamsoet memaparkan bahwa kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih tertahan di angka 5 persen. Angka ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara dengan ekosistem koperasi maju seperti Jepang atau Korea Selatan. Dominasi koperasi simpan pinjam skala kecil dinilai belum memberikan daya ungkit signifikan terhadap ekonomi riil.

Sebagai solusi, Ketua DPR RI ke-20 ini mengusulkan konsep Merek Kolektif untuk mengatasi hambatan produksi di tingkat desa. Dengan merek bersama, koperasi dapat melakukan standarisasi kualitas, efisiensi distribusi, hingga penguatan promosi secara terpusat.

“Melalui merek kolektif, anggota koperasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka terhubung dalam satu ekosistem produksi dan pemasaran yang saling menguatkan,” tegas Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Koperasi Merah Putih diharapkan bertransformasi dari sekadar lembaga keuangan mikro menjadi pusat konsolidasi produksi, pengolahan, hingga distribusi. Pendekatan ini bertujuan memotong rantai distribusi yang panjang dan meningkatkan nilai tambah langsung bagi masyarakat desa.

Acara peluncuran buku tersebut turut dihadiri oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Wakil Menteri Atip Latipulhayat, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, serta sejumlah pejabat kementerian terkait. Bamsoet menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan swasta untuk memastikan koperasi menjadi bagian terintegrasi dari ekosistem ekonomi nasional.

Analisis BAMSOETNEWS.COM: Menuju Kedaulatan Ekonomi Desa

Visi Bamsoet mengenai Koperasi Merah Putih berbasis merek kolektif merupakan jawaban atas fenomena “koperasi papan nama” yang selama ini menjadi beban statistik nasional. Analisis kami menunjukkan bahwa hambatan terbesar koperasi desa selama ini bukanlah kurangnya modal, melainkan ketiadaan akses pasar dan rendahnya nilai tawar produk akibat produksi yang terfragmentasi.

Implementasi merek kolektif—serupa dengan model sukses koperasi susu di Eropa—akan memberikan competitive advantage bagi produk lokal pertanian dan perikanan Indonesia. Jika pemerintah melalui Kementerian Koperasi mampu mengintegrasikan gagasan ini ke dalam kebijakan nasional, Koperasi Merah Putih berpotensi meningkatkan kontribusi PDB secara signifikan. Namun, keberhasilan ini bergantung pada konsistensi pendampingan teknologi dan standarisasi, agar produk desa tidak hanya unggul secara narasi “lokal”, tetapi juga kompetitif secara kualitas di pasar global. *****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini