Hukum

Pledoi Kuat Ma’ruf: Saya Tidak Tahu  Apa yang akan Terjadi pada Yosua

301
×

Pledoi Kuat Ma’ruf: Saya Tidak Tahu  Apa yang akan Terjadi pada Yosua

Sebarkan artikel ini
Kuat Ma’ruf ketika membacakan pleidoi atau pembelaan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (24/1/2023). (DOKUMEN DETIKCOM)

JAKARTA (24/1/2023), BAMSOETNEWS.COM— Terdakwa pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J), Kuat Ma’ruf menegaskan dirinya tidak tahu Yosua akan dibunuh pada 8 Juli 2022. Kuat juga mengaku bingung dan tidak paham atas dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada dirinya, yang didakwa turut serta dalam pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.

“Saya harus tegaskan, saya tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi kepada almarhum Yosua pada tanggal 8 Juli 2022,” kata Kuat Ma’ruf ketika membacakan pleidoi atau pembelaan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Dimulai dari proses penyidikan, sebutnya, ia seakan-akan dianggap dan bahkan dituduh mengetahui perencanaan pembunuhan.

Sejumlah tuduhan yang Kuat Ma’ruf sebutkan adalah anggapan para penyidik bahwa Kuat menyiapkan pisau dari Magelang, Jawa Tengah. Kemudian, tuduhan membawa pisau tersebut ke rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan, tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan.

“Padahal di dalam persidangan sangat jelas terbukti, saya tidak pernah membawa tas atau pisau, yang didukung keterangan dari para saksi dan hasil video rekaman yang ditampilkan,” jelasnya.

Kuat juga membantah tuduhan dirinya bersekongkol dengan terdakwa Ferdy Sambo. Berdasarkan hasil persidangan, jelas Kuat, tidak ada satu pun saksi, video rekaman, atau bukti lainnya yang menyatakan ia bertemu dengan Ferdy Sambo di Saguling, Jakarta Selatan.

Dia juga menyanggah tuduhan, dianggap ikut merencanakan pembunuhan terhadap Brigadir J karena Kuat menutup pintu dan menyalakan lampu. Dia menegaskan tindakan tersebut sudah menjadi rutinitas dirinya, sebagai asisten rumah tangga.

“Jadi, kapan saya ikut merencanakan pembunuhan kepada almarhum Yosua?” tanya Kuat. Oleh karena itu, ia meminta kepada majelis hakim untuk berlaku dengan adil dalam memutus perkara itu. “Karena yang saya pahami, majelis hakim yang mulia adalah wakil Tuhan di dunia ini dalam memutuskan perkara yang akan memengaruhi hidup seseorang,” katanya.

Pada persidangan sebelumnya, jaksa penuntut umum menyatakan terdakwa Kuat Ma’ruf terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dengan demikian, jaksa menuntut terdakwa Kuat Ma’ruf hukuman pidana penjara delapan tahun.

Kuat Ma’ruf adalah satu dari lima terdakwa dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir J. Empat terdakwa lainnya adalah Ricky Rizal yang dituntut pidana penjara selama delapan tahun, Ferdy Sambo dituntut pidana penjara seumur hidup, Putri Candrawathi dituntut pidana penjara delapan tahun, serta Richard Eliezer dituntut pidana penjara 12 tahun. (ANTARANEWS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *