Kesehatan

Konsumsi Hati pada Ibu Hamil Harus Dikontrol

147
×

Konsumsi Hati pada Ibu Hamil Harus Dikontrol

Sebarkan artikel ini
Dokter memeriksa janin seorang ibu hamil. (DOKUMEN ANTARANEWS)

JAKARTA (16/1/2024), BAMSOETNEWS.COM —- Ibu hamil disarankan agar mengontrol konsumsi hati, sebagai sumber zat besi, lantaran tingginya kandungan kadar retinoid atau vitamin A. Kalau melebihi ambang batas atas punya risiko untuk memberi kemungkinan cacat pada janinnya kalau di awal kehamilan.

Demikian dipaparkan Dokter spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Prof. Dr. dr. Noroyono Wibowo, Sp.OG, Subsp.KFm (K), dalam diskusi kesehatan secara daring di Jakarta, Selasa (16/1/2024).

Disampaikan, hati sapi maupun kambing menjadi sumber zat besi lebih tinggi dari daging merah. Selain pada daging merah dan hati, ibu hamil juga bisa melengkapi asupan besi dengan makan makanan seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, sayur maupun kacang-kacangan agar terhindar dari anemia akibat kekurangan zat besi atau defisiensi besi.

“Ibu hamil kenapa rentan defisiensi besi karena untuk membangun janin itu sendiri membutuhkan besi. Sekarang, kan, nutrisi tidak hanya banyak-banyakan, tapi, seimbang. Jadi, dia juga membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, dia juga membutuhkan mineral dan vitamin. Nggak bisa hanya sayur,” kata Noroyono.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, Noroyono mengatakan angka anemia pada kehamilan mencapai 48,9%r dan 60-70% penyebab anemia adalah defisiensi besi. Gejala awal yang bisa diwaspadai pada ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi besi adalah lebih lemas, dan reaksi pada otak yang melambat, adalah beberapa kemungkinan terjadinya anemia. Jika ada tanda dan gejala itu, Noroyono menyarankan untuk dibuktikan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin.

Zat besi, selain digunakan untuk membentuk eritrosit (sel darah merah) dalam hemoglobin, juga dipakai untuk membuat tenaga. Zat besi sendiri adalah salah satu bahan untuk membentuk neurotransmitter seperti serotonin, zat yang dipakai untuk berpikir dan bereaksi.

Kekurangan zat besi bisa memengaruhi post partum atau masa setelah kehamilan. Saat persalinan, perempuan yang kekurangan zat besi tidak memiliki banyak tenaga sehingga proses akan lebih panjang. Kekurangan zat besi juga menimbulkan risiko perdarahan karena kontraksi rahim tidak memadai. Perdarahan yang sangat banyak saat persalinan bisa menyebabkan kematian.

Noroyono mengimbau perempuan yang sedang hamil trimester pertama perlu memeriksakan diri apakah ada kemungkinan anemia melalui pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL). Pemeriksaan itu meliputi hemoglobin, hematokrit, lekosit, trombosit dan pemeriksaan faktor nutrisi lainnya agar tercipta kehamilan yang baik dan janin dapat tumbuh sehat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *