Rumah Kebangsaan

Bung Karno tidak Wariskan Militer Kuat untuk Persatukan Indonesia

86
×

Bung Karno tidak Wariskan Militer Kuat untuk Persatukan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah (DOKUMEN MPR RI)

SURABAYA (26/8/2023), BAMSOETNEWS.COM — Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengajak semua generasi bangsa terus mensyukuri nikmat persatuan bangsa di tengah multikulturalisme yang subur di negeri ini. Pilihan pendiri bangsa yang tidak mewariskan militer kuat untuk negeri ini tapi justru menitipkan Pancasila harus dipuji, karena ideologi yang kuat terbukti mampu membentengi bangsa dari perpecahan.

“Jika yang diwariskan oleh para founding fathers kepada kita kekuatan militer, sangat mungkin militer melemah. Ideologi akan terserap dalam jiwa, terlaksana dalam tindakan moral. Dengan Pancasila, bangsa Indonesia bisa mencari sendiri cara-cara luhur untuk memecahkan persoalan kebangsaan yang mereka hadapi,” tegas Basarah di depan 9.000 mahasiswa baru Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Sabtu (26/8/2023).

Berbicara dalam acara penutupan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unair, Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu bercerita bahwa pada April 1960 Presiden Soekarno berkunjung ke Yugoslavia. Negeri Balkan tersebut saat itu dipimpin PM Josep Broz Tito dan Yugoslavia adalah negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1 Februari 1950 melalui PM Edvard Kardelj.

Dalam salah satu obrolan, lanjut Basarah, Bung Karno bertanya kepada Josep Broz Tito apa yang akan diwariskannya kepada Yugoslavia setelah ia wafat. Dengan mantap ia menjawab akan mewariskan angkatan perang yang kuat untuk melindungi keutuhan Yugoslavia.

“Tito kemudian balik bertanya kepada Bung Karno apa yang akan diwariskan kepada Indonesia jika ia wafat. Bung Karno langsung menjawab ia mewariskan Pancasila sebagai jalan hidup bangsa yang akan ditinggalkannya. Terbukti, Indonesia sampai sekarang masih berdiri, tapi setelah Tito wafat tahun 1980, Yugoslavia bubar tahun 1995,” tutur Basarah yang disambut tepuk tangan para mahasiswa.

Dalam paparan bertema Urgensi Eskalasi Moral Bagi Generasi Muda, Basarah yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan itu menambahkan bahwa Pancasila bisa mengakar di setiap jiwa anak bangsa, sebab ideologi itu memang digali dari nilai-nilai luhur yang mengakar di tengah nenek moyang Nusantara. Sejak dahulu, lanjutnya, nenek moyang bangsa Indonesia memang bertuhan, menjunjung tinggi kemanusiaan, gemar bersatu dan bergotong royong, lebih memilih musyawarah ketimbang konflik, dan anti pada mereka yang tidak berkeadilan.

Oleh karena itu, tegas Basarah, ketika nilai-nilai yang sudah ratusan tahun berkembang di tengah masyarakat itu dirumuskan dalam satu pemikiran bernama Pancasila, dengan sendirinya ideologi tersebut mudah diterima. (PERS RILIS MPR RI/ASATUNEWS.CO.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *